Sabtu, 08 Desember 2012

Aku yang Kini, Aku yang Lebih Baru

Tidak mempunyai kata-kata kritis untuk ditulis merupakan satu di antara sekian duka seorang penulis. Tapi aku tidak akan membahas tentang mereka yang ahli dalam menulis kali ini. Ini sangat kontras dengan kalimat pertama yang aku tulis. Mungkin akan sangat menyimpang. Hanya mungkin, karena hingga kalimat ini aku belum juga menemukan prediksi tentang apa yang akan aku tulis beberapa kalimat kemudian.
            Aku ingin menceritakan sedikit pengalaman atau entah apa ini. Aku menyukai sesuatu yang berbau ambigu, yang menimbulkan kemultitafsiran orang-orang. Tapi setelah aku menulis sampai kalimat ini, ternyata bukan itu juga yang ingin aku bahas.
            Aku mencoba kesekian kalinya untuk menemukannya. Aku ini adalah manusia yang sangat membutuhkan waktu. Tuhanku telah memberitahukan dengan penuh kasih sayang kepada manusia bahwa waktu memanglah sangat berharga. Waktu mampu menimbulkan depresi dan perdebatan di kalangan orang-orang jenius. Waktu merupakan obat bagi orang-orang yang ingin melupakan kesedihan. Waktu adalah penantian bagi orang-orang yang divonis mati oleh hakim yang umumnya disebut juga dokter. Begitu hebatnya waktu tapi tetap saja tidak ada yang akan pernah bisa mengalahkan penciptanya, Tuhanku.
            Aku memang jarang memiliki susunan kalimat padu yang dapat diucapkan spontan. Dan inilah satu dari sekian kelemahanku yang harus aku terima dengan hati lapang atau terkadang harus mampu kulawan dengan susah payah. Satu manusia dengan manusia yang lain tentu memiliki perbedaan. Itulah yang menyebabkan dunia ini tidak membosankan. Akan tetapi, kadang-kadang tidak membosankan tidaklah selalu yang seperti diharapkan oleh seseorang. Tidak membosankan bisa berarti dapat saling melengkapi, saling menolong atau hal positif lain yang disenangi semua orang secara universal. Di sisi lain, tidak membosankan juga dapat berupa hal-hal menyebalkan dari orang lain yang sering memicu ketidaksukaan seseorang kepada orang lain.
            Aku kembali mengalami kesulitan dan memutuskan menekan tombol enter ketika berpindah ke paragraf ini. Menarik memang ketika apa yang ingin aku bicarakan adalah kesulitan, meskipun hanya untuk diriku sendiri. Di dalam hidup ini manusia pasti akan bertemu dengan sesuatu yang dinamakan kesulitan. Kesulitan adalah sesuatu yang menempatkan seseorang dalam posisi terdesak dan tertekan, membuatnya merasa menderita karena tidak memiliki kemampuan untuk berbuat sesuatu. Ketika aku harus berhadapan dengan Fisika dan Matematika aku mengalami kesulitan. Ketika aku menderita sebuah penyakit yang tidak kunjung sembuh aku merasa berada dalam keadaan yang sulit. Namun, ketika kesulitan itu telah berakhir, kepedihan itu juga berakhir. Semuanya kembali berpulang kepada pedoman hidup yang telah aku pilih dan aku benar-benar beruntung karena telah memilihnya. Tuhanku dengan segala kebesaran-Nya telah memberitahu seluruh umat manusia bahwa di balik kesulitan itu ada kemudahan. Dan di balik kesulitan itu ada kemudahan.
            Inilah akhir dari paragraf acak yang telah berhasil aku buat. Kelak aku berharap hanya kepada Tuhanku, aku mampu dan berhasil menyelesaikan paragraf yang lebih baik. Udara dingin malam ini, setelah berakhirnya salah satu ujian dari hidup. Esok hari. Semoga Tuhanku sudi mengabulkan doa hambanya ini. Sinar matahari pagi yang lembut esok hari atau pelangi tujuh warna yang indah di Minggu pagi. Semoga Tuhanku senantiasa melindungimu.
I want to be? 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar