Tidak
mempunyai kata-kata kritis untuk ditulis merupakan satu di antara sekian duka
seorang penulis. Tapi aku tidak akan membahas tentang mereka yang ahli dalam
menulis kali ini. Ini sangat kontras dengan kalimat pertama yang aku tulis. Mungkin
akan sangat menyimpang. Hanya mungkin, karena hingga kalimat ini aku belum juga
menemukan prediksi tentang apa yang akan aku tulis beberapa kalimat kemudian.
Aku ingin menceritakan sedikit
pengalaman atau entah apa ini. Aku menyukai sesuatu yang berbau ambigu, yang
menimbulkan kemultitafsiran orang-orang. Tapi setelah aku menulis sampai
kalimat ini, ternyata bukan itu juga yang ingin aku bahas.
Aku mencoba kesekian kalinya untuk
menemukannya. Aku ini adalah manusia yang sangat membutuhkan waktu. Tuhanku
telah memberitahukan dengan penuh kasih sayang kepada manusia bahwa waktu
memanglah sangat berharga. Waktu mampu menimbulkan depresi dan perdebatan di
kalangan orang-orang jenius. Waktu merupakan obat bagi orang-orang yang ingin
melupakan kesedihan. Waktu adalah penantian bagi orang-orang yang divonis mati
oleh hakim yang umumnya disebut juga dokter. Begitu hebatnya waktu tapi tetap
saja tidak ada yang akan pernah bisa mengalahkan penciptanya, Tuhanku.
Aku memang jarang memiliki susunan
kalimat padu yang dapat diucapkan spontan. Dan inilah satu dari sekian
kelemahanku yang harus aku terima dengan hati lapang atau terkadang harus mampu
kulawan dengan susah payah. Satu manusia dengan manusia yang lain tentu
memiliki perbedaan. Itulah yang menyebabkan dunia ini tidak membosankan. Akan
tetapi, kadang-kadang tidak membosankan tidaklah selalu yang seperti diharapkan
oleh seseorang. Tidak membosankan bisa berarti dapat saling melengkapi, saling
menolong atau hal positif lain yang disenangi semua orang secara universal. Di
sisi lain, tidak membosankan juga dapat berupa hal-hal menyebalkan dari orang
lain yang sering memicu ketidaksukaan seseorang kepada orang lain.
Aku kembali mengalami kesulitan dan
memutuskan menekan tombol enter ketika berpindah ke paragraf ini. Menarik
memang ketika apa yang ingin aku bicarakan adalah kesulitan, meskipun hanya
untuk diriku sendiri. Di dalam hidup ini manusia pasti akan bertemu dengan
sesuatu yang dinamakan kesulitan. Kesulitan adalah sesuatu yang menempatkan
seseorang dalam posisi terdesak dan tertekan, membuatnya merasa menderita
karena tidak memiliki kemampuan untuk berbuat sesuatu. Ketika aku harus
berhadapan dengan Fisika dan Matematika aku mengalami kesulitan. Ketika aku
menderita sebuah penyakit yang tidak kunjung sembuh aku merasa berada dalam
keadaan yang sulit. Namun, ketika kesulitan itu telah berakhir, kepedihan itu
juga berakhir. Semuanya kembali berpulang kepada pedoman hidup yang telah aku
pilih dan aku benar-benar beruntung karena telah memilihnya. Tuhanku dengan
segala kebesaran-Nya telah memberitahu seluruh umat manusia bahwa di balik
kesulitan itu ada kemudahan. Dan di balik kesulitan itu ada kemudahan.
Inilah akhir dari paragraf acak yang
telah berhasil aku buat. Kelak aku berharap hanya kepada Tuhanku, aku mampu dan
berhasil menyelesaikan paragraf yang lebih baik. Udara dingin malam ini,
setelah berakhirnya salah satu ujian dari hidup. Esok hari. Semoga Tuhanku sudi
mengabulkan doa hambanya ini. Sinar matahari pagi yang lembut esok hari atau
pelangi tujuh warna yang indah di Minggu pagi. Semoga Tuhanku senantiasa
melindungimu.
I want to be?
I want to be?